Ternyata, traveler tangguh pun bisa tunduk pada cinta. Trinity misalnya, terpaksa menemani orang yang dicintainya ke Bromo, padahal malas setengah mati. Claudia Kaunang, Andrei Budiman, Rini Raharjanti, Sari Musdar, dkk. pun pernah tunduk pada cinta, dengan kisah yang berbeda-beda.
Travelove adalah kisah-kisah traveling berbalut cinta, ditulis oleh para traveler dengan segala kejujurannya. Buku ini akan membuat pembaca bisa menemukan sisi lain para traveler. Jadi, jangan kaget kalau ternyata mereka juga punya sisi melankolis.
Tak hanya disuguhi kisah sedih, romantis, dan mengharukan, pembaca juga akan diajak jalan-jalan keliling dunia lewat buku ini. Menikmati indahnya Lombok, Laos, Jepang, hingga Eropa dengan bumbu kisah cinta yang tak biasa.
Buku ini telah menjadi incaran saya sedari rilisnya buku ini. Pertama, karena saya pecinta buku-buku travelling dan kedua, travel writer favorit saya - Trinity - ikut ambil bagian dalam buku ini. Saya sengaja datang ke Jakarta Book Fair tanggal 30 Juni 2012 kemarin untuk membeli buku ini dengan diskon lumayan serta ikut dalam talkshow buku ini. Selesai talkshow, saya langsung menghampiri Trinity untuk menandatangani buku Travelove ini dan buku TNT3 saya serta tidak lupa berfoto dengannya ;)
Ada 9 kisah yang ditulis di buku setebal 151 halaman ini. Kisah pertama dibuka oleh Andrei Budiman, "Bertemu itu Kesempatan, Bersama Itu Pilihan" yang bercerita mengenai perjalanan "kaburnya" ke Jepang setelah putus dari kekasihnya. Buku ditutup dengan tulisan dari Lalu Abdul Fatah, "Does Anybody Know Where Natalie Is?" yang sukses memprovokasi saya untuk membuat daftar 100 Things To Do Before I Die (oke, nanti saya buat!) dimana daftar ke-53 miliknya berisikan pencarian kepada Natalie, relawan NGO yang bertugas di Lombok yang ia temui. Masih ada 7 kisah inspiratif lainnya yang akan saya bongkar kembali 2 diantaranya.
"Perjalanan ke Surga" milik Trinity, menjadi favorit saya - terlepas dari Trinity adalah penulis favorit saya. I've been left by a man whom I called Dad. Tulisan Trinity ini sukses membuat saya tersenyum ketika mengingat Papa yang telah lama meninggalkan saya. Bukannya sedih dan menangis, tapi tersenyum. Tulisan ini mengajari saya, bagaimana harusnya saya berterima kasih karena sempat mengenal sosok laki-laki yang menjadi Papa saya - bukannya menangisi kepergiannya. Really, such an inspiring story :)
Selain terinspirasi dari tulisan Trinity, saya juga terinspirasi oleh salah satu puisi dari kisah Claudia Kaunang di "Silent Retreat" :
You had better slow down
Don't dance so fast
Time is short
The music won't last
When you're running so fast to get somewhere
You miss half the fun of getting there
When you worry and hurry through your day
It is like an unopened gift just thrown away
Life is not a race
Do take it slower
Hear the music
Before the song is over
Dan salah satu quote dari kekasih Claudia Kaunang : "Life is not only a round of working and traveling. Stop for a while and come to a place like this". Tempat yang dimaksud adalah semacam rumah ret-ret, yang biasa kita temui di pinggiran Jakarta dan luar Jakarta.
Sweet, right? :)


0 comments:
Post a Comment