Ini Bulutangkis, dan Ini Indonesia,
di mana impian dibawa ke dunia nyata, tidak berlaku untuk Gusni Annisa Puspita, remaja yang "kelebihannya" adalah keterbatasannya. Cita-citanya sejak kecil untuk membuat orang tuanya senang dengan bermain bulutangkis terus kandas.
Suatu malam, sebuah kenyataan pahit datang untuknya, sebuah kenyataan tak berperi, hidup yang tidak berpihak kepadanya, kenyataan yang berbicara lantang kalau bermimpi saja tidak akan pernah cukup.
Dan, perempuan Indonesia dengan segala keterbatasannya itu memutuskan untuk melawan, memutuskan untuk terus berjuang demi impiannya, memutuskan untuk terus mencintai hidup yang tidak pernah sempurna.
Memutuskan untuk berani mencintai, dan mencintai dengan berani...
Gusni Annisa Puspita, lahir sebagai seorang perempuan yang harus menderita penyakit genetis yang membuat tubuhnya terus membesar dan berat tubuhnya terus naik. Gusni kecil yang suka sekali makan onde-onde dan choki-choki, suatu ketika harus merelakan onde-onde yang ada di kantin karena habis diborong "saingannya". Dari situlah Gusni bertemu Harry, anak laki-laki yang juga bertubuh tambun. Awalnya Gusni menganggap Harry menyebalkan karena onde-onde di kantin habis olehnya. Pandangan Gusni berubah ketika Harry menyelamatkannya dan kedua sahabatnya, Nuni dan Ani yang dikerjai teman laki-laki yang nakal.
"Kata Mama Harry, lebih enak jadi orang gendut, karena ukuran hatinya pasti lebih besar"
Sejak saat itu, Gusni berteman dengan Harry.
"...cuma kamu yang boleh panggil aku Gusni-Gusni..."
"... cuma kamu yang boleh panggil aku Harry-Harry"
Gusni bercita-cita menjadi pemain bulutangkis sejak ia bersama keluarganya menonton pertandingan final Olimpiade 1992 kala Susi Susanti memenangkan medali emas pertama bagi Indonesia. Namun hanya Gita Annisa Srikandi, kakak kandung Gusni yang cita-citanya tersampaikan. Selalu saja Papa Gusni mengulur-ulur waktu ketika Gusni kecil bertanya kapankah ia boleh berlatih bulutangkis.
Peristiwa pahit menghampiri keluarga Harry. Tragedi Mei 1998 yang merupakan sejarah kelam Indonesia ikut membuat usaha keluarganya hancur ketika restoran bakmi yang didirikan Papa Harry diamuk massa. Harry-pun harus meninggalkan Gusni dan ikut dengan keluarganya demi mencari kehidupan yang baru.
Gusni remaja akhirnya bertemu lagi dengan sahabatnya, Harry. Namun tak lagi perasaan sebagai sahabat yang menghampiri Gusni, melainkan ketertarikan lain yang membuat Gusni selalu bahagia dan nyaman dikala dekat dengan Harry. Namun, kenyataan pahit harus kembali ditelan Gusni. Ia harus menerima bahwa dirinya menderita penyakit genetis yang diderita kakek buyut dan kakak dari kakek buyutnya. Mereka tidak bisa hidup lebih dari 25 tahun, dan sempat membuat Gusni down. Tidak lama-lama terpuruk dalam perasaan sedihnya, ia berkonsultasi dengan dokter untuk mencari cara melawan penyakitnya. Ia tidak mau dipandang sebagai orang penyakitan.
Harapan Gusni menjadi pemain bulutangkis perlahan-lahan terkabul. Pertahanan luar biasa yang ditampilkan Gusni di depan Pak Pelatih akhirnya membuat Gusni dipanggil masuk ke klub dan akhirnya perlahan tapi pasti, langkahnya menyamai langkah kakaknya yang sudah lebih dulu masuk Pelatnas...
"Kamu perempuan Gus, kalau kamu mau nangis, nangis aja. Tapi menangislah untuk sesuatu yang baik, bukan untuk sesuatu yang sia-sia..."
"Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikitpun tidak pernah!"
"Saya harus percaya cita-cita saya, harapan saya, impian saya, kalau tidak untuk apa saya hidup? Kalau tidak, untuk apa saya pergi nantinya kalau waktu saya tiba?"
"...bahwa tidak ada hidup yang sempurna. Hanya seorang pengecut yang menginginkan hidupnya sempurna..."
Yang pasti, karena novel ini saya makin mencintai bulutangkis Indonesia dan kembali berdoa supaya Indonesia bisa kembali ke tempat tertingginya. Yang pasti saya jadi makin pengen ngerasain sensasi luar biasa yang ada di Istora Senayan ketika ada pertandingan bulutangkis! Wish me!
"Ini Bulutangkis, dan ini Indonesia!"


0 comments:
Post a Comment