Genta, Arial, Zafran, Riani, dan Ian adalah lima remaja yang telah menjalin persahabatan belasan tahun lamanya. Suatu hari mereka berlima merasa "jenuh" dengan persahabatan mereka dan akhirnya kelimanya memutuskan untuk berpisah, tidak saling komunikasi satu sama lain selama tiga bulan lamanya.
Selama tiga bulan berpisah penuh kerinduan, banyak yang terjadi dalam kehidupan mereka berlima, sesuatu yang mengubah diri mereka masing-masing untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan. Setelah tiga bulan berselang mereka berlimapun bertemu kembali dan merayakan pertemuan mereka dengan sebuah perjalanan penuh impian dan tantangan. Sebuah perjalanan hati demi mengibarkan Sang Saka Merah Putih di puncak tertinggi Jawa pada tanggal 17 Agustus. Sebuah perjalanan penuh perjuangan yang membuat mereka semakin mencintai Indonesia.
Sebuah perjuangan atas impian, perjalanan hati yang merubah hidup mereka untuk selamanya. (taken from 21cineplex.com)
Genta, Arial, Zafran, Ian, dan Riani tidak pernah melewatkan satu akhir pekan-pun tanpa bersama-sama yang telah berlangsung selama 10 tahun lebih, walaupun mereka masing-masing mempunyai aktivitas masing-masing yang berbeda. Suatu malam, di secret garden mereka di rumah Arial, mereka akhirnya memutuskan break dari kegiatan pertemanan mereka, tanpa komunikasi sama sekali di antara mereka yang akan berlangsung selama 3 bulan, dengan janji akan bertemu di tanggal 14 Agustus dengan suatu perayaan yang tidak akan pernah dilupakan mereka. Selama 3 bulan itu, mereka masing-masing menjalani aktivitasnya : Genta sebagai EO, Riani bekerja kantoran, Zafran dengan usaha mendekati adik Arial - Arinda atau Dinda, Arial yang berusaha pedekate dengan teman di gym-nya - Indy, dan Ian yang bekerja keras untuk menyelesaikan skripsinya. 7 Agustus, masing-masing menerima reminder dari Genta untuk "perayaan" di tanggal 14 Agustus nanti : pertemuan di Stasiun Senen jam 14.00. Sampai akhirnya mereka sampai di tujuan yaitu Malang, akhirnya Genta memberitahu "perayaan" yang dimaksud : perjalanan mendaki menuju Puncak Mahameru di tanggal 17 Agustus.
Baru kali ini saya bener-bener puas sama film hasil adaptasi dari novel. Rasanya waktu nonton film ini adalah film itu adalah visualisasi dari imajinasi saya selama saya membaca buku. Walaupun banyak yang dipotong, namun bagi saya gak masalah. Kisahnya tetap mengalir lembut dengan latar belakang keindahan alam kompleks Bromo-Tengger-Semeru dan benar saja, Ranukumbolo adalah surga bagi para pendaki Mahameru. Keindahan yang seperti di foto-foto atau lukisan bergambar danau dan hutan serta gunung, itulah Ranukumbolo, bagaikan lukisan alam yang luar biasa indah. Bagi saya pribadi, setelah membaca novel dan nonton filmnya, saya jujur saja bersyukur sekali kepada Tuhan atas keindahan alam Indonesia yang luar biasa. Jadi, saya rpibadi gak bisa banyak berkomentar karena puas banget akan film ini - sesuai ekspetasi saya :)
"Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh disini, di depan kening kamu, jangan menempel. Biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu..."


0 comments:
Post a Comment