Karena punya adik cowok, dari kecil saya dan adik saya selalu main adu penalti. Jatahnya bergantian, kadang saya yang jadi kiper dan kadang saya jadi penendang. Walaupun suka main adu penalti itu, bukan berarti saya yang diumur segitu dulu sudah mengerti soal dunia persepakbolaan. Kecintaan saya akan sepakbola muncul akibat punya mbak yang suka banget sepakbola.
Perkenalan paling pertama dengan dunia sepakbola adalah saat Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang. Yang saya ingat betul itu pertandingan Italia vs Korea Selatan dan sejak itu saya resmi menjadi tifosi Italia dan tifosi AC Milan - sampai sekarang. Ada sesuatu di dalam permainan 11 orang itu yang menarik perhatian saya. Skor akhirnya memang rata-rata kecil atau bahkan tidak ada angka sama sekali, namun yang seru itu bukan terletak pada skor akhir melainkan pada isi pertandingannya itu. Mencari 1 gol itu bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan skill personal tiap-tiap pemain, strategi sang pelatih, dan tentunya kerjasama apik dari tim. Menurut saya, sepakbola itu sejatinya adalah permainan kebersamaan, kebersamaan tim di lapangan dan kebersamaan penonton sebagai pendukung.
Dewasa ini, tidaklah aneh jika seorang perempuan amat menggilai sepakbola. Mungkin sebagian besar karena sekarang ini banyak pemain sepakbola berwajah ganteng, namun tak jarang pula yang menggilai sepakbola karena menikmati permainannya atau tak jarang dengan alasan kedua-duanya. Ambillah contoh, David Beckham. Siapa yang tidak mengenal pemain sekaligus model ganteng ini? Saya rasa yang tidak suka sepakbola-pun tahu. Tidak hanya bermodalkan wajah, Beckham sendiri punya modal aduhai dalam mengolah si kulit bundar. Keahliannya melepas tendangan bebas tidak perlu diragukan lagi. Kepemimpinannya sebagai jenderal lapangan tengah di kala masa emasnya tidak perlu dipertanyakan. David Beckham telah menjadi legenda hidup sepakbola modern dan panutan bagi pesepakbola belia zaman ini.
Kembali ke dalam negeri, sepakbola bagaikan roh yang merasuk ke dalam setiap benak rakyat Indonesia, selain bulutangkis. Sedih memang melihat berbagai kasus yang terjadi di tubuh PSSI - Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia-, melihat sepakbola dipolitisasi oleh oknum yang mengaku pejabat pemerintah, melihat ketidakseriusan pemerintah dalam mengusut kasus hukum yang ada di PSSI, dan sebagainya. Tapi hebatnya, jika Timnas sedang bertanding, rakyat Indonesia seperti bersatu untuk mendukung Timnas, tidak peduli polemik apa yang sedang terjadi di tubuh PSSI. Kalah-menang, pendukung Timnas Indonesia selalu mendukung dan memberikan semangat kepada pemain-pemain yang adalah para pahlawan di lapangan hijau. Contohnya ya seperti saat AFF Cup sekarang ataupun 2 tahun lalu, dimana semangat nasionalisme rakyat Indonesia terbakar untuk mendukung penuh Timnas. 11 orang di lapangan hijau menyatukan 240.000.000 rakyat Indonesia.
By the way, demi nonton pertandingan sepakbola, saya sampai rela mengurangi jatah tidur dan membatalkan janji pergi. Freak enough? Yeah!
0 comments:
Post a Comment