Gadis Pantai lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Rembang, Jawa Tengah. Cukup manis untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat; seorang Jawa yang bekerja pada administrasi Belanda. Dia diambil sebagai gundik dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani kebutuhan seks pembesar sampai kemudian Pembesar tersebut memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sederajat dengannya.
Mulanya perkawinan tersebut memberi prestise baginya di kampung halamannya. Ia naik derajat menjadi Bendoro Putri. Tapi itu tak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke tanah. Orang Jawa yang telah memilikinya, tega membuangnya setelah ia melahirkan seorang bayi perempuan.
Roman ini menusuk feodalisme Jawa tepat di jantungnya yang paling dalam!
Mulanya perkawinan tersebut memberi prestise baginya di kampung halamannya. Ia naik derajat menjadi Bendoro Putri. Tapi itu tak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke tanah. Orang Jawa yang telah memilikinya, tega membuangnya setelah ia melahirkan seorang bayi perempuan.
Roman ini menusuk feodalisme Jawa tepat di jantungnya yang paling dalam!
Entah kenapa pengen banget nge-review buku ini. Saya membaca buku ini sudah sejak zaman SMP dan saat itu membaca buku ini sebagai tugas Bahasa Indonesia belaka (baca : terpaksa). Bahkan sampai deadline tugasnya, setengah saja-pun tidak habis! Buku ini habis ketika saya menunggu di Gereja untuk misa Jumat Agung. Dan sekarang... saya tidak habis pikir kenapa saya pengen banget nge-review buku ini. Padahal buku ini belum saya baca ulang.
Namanya Gadis Pantai, tidak punya nama lain. Ia hidup bersama Ayah dan Ibunya di perkampungan nelayan. Dahulu ia punya kakak, namun meninggal di laut dan tak diketemukan jasadnya. Gadis Pantai "terpilih" menjadi istri pembesar di Rembang, yang dikala itu merupakan gengsi tinggi di perkampungannya. Diantar Ayah dan Ibunya ke kota dan tidak pernah sama sekali melihat sosok calon suaminya itu. Bahkan saat ijab kabul-pun sang Pembesar diwakilkan oleh sebilah keris. Semenjak menikah, Gadis Pantai pindah ke rumah suaminya di kota.
Ia mendapat nama baru : Mas Nganten. Di rumah sang Bendoro, ia mendapat seorang abdi, seorang abdi perempuan yang senantiasa menemani dan mengajari Mas Nganten tata krama di rumah Bendoro. Namun, seperti yang ada di dalam sinopsisnya, posisinya sebagai Mas Nganten tak berlangsung lama. Setelah ia melahirkan anak perempuan (sedangkan Bendoro menginginkan anak laki-laki), ia didepak dari rumah sang Bendoro dan tragisnya, ia tidak boleh membawa putrinya.
Sejatinya, buku ini merupakan trilogi (akhir dari buku ini memang menggantung). 2 buku dari trilogi ini sudah lenyap tak bersisa saat pembredelan di zaman Orde Baru. Buku ini saja diselamatkan bukan di Indonesia melainkan oleh orang asing di Australia (kalau gak salah :p) dan berkatnya, buku ini kembali ke bumi pertiwi dengan cetakan baru. Padahal pengen banget baca lanjutannya, walaupun harus dengan berpikir agak ekstra dengan bahasa yang dipakai Pak Pram (Alm) yang "ketinggian" buat saya. Ceritanya memang agak menyebalkan buat perempuan namun itulah kenyataan yang terjadi di zaman penjajahan Belanda di Jawa, dimana perempuan selalu menjadi nomor kedua. Juga menjadi menyebalkan ketika Bendoro merasa tidak puas ketika Gadis Pantai melahirkan bayi perempuan, padahal siapa juga yang tahu bayi yang dikandungnya itu berjenis kelamin apa mengingat belum ada teknologi USG di zaman itu. Hufff...
Namanya Gadis Pantai, tidak punya nama lain. Ia hidup bersama Ayah dan Ibunya di perkampungan nelayan. Dahulu ia punya kakak, namun meninggal di laut dan tak diketemukan jasadnya. Gadis Pantai "terpilih" menjadi istri pembesar di Rembang, yang dikala itu merupakan gengsi tinggi di perkampungannya. Diantar Ayah dan Ibunya ke kota dan tidak pernah sama sekali melihat sosok calon suaminya itu. Bahkan saat ijab kabul-pun sang Pembesar diwakilkan oleh sebilah keris. Semenjak menikah, Gadis Pantai pindah ke rumah suaminya di kota.
Ia mendapat nama baru : Mas Nganten. Di rumah sang Bendoro, ia mendapat seorang abdi, seorang abdi perempuan yang senantiasa menemani dan mengajari Mas Nganten tata krama di rumah Bendoro. Namun, seperti yang ada di dalam sinopsisnya, posisinya sebagai Mas Nganten tak berlangsung lama. Setelah ia melahirkan anak perempuan (sedangkan Bendoro menginginkan anak laki-laki), ia didepak dari rumah sang Bendoro dan tragisnya, ia tidak boleh membawa putrinya.
Sejatinya, buku ini merupakan trilogi (akhir dari buku ini memang menggantung). 2 buku dari trilogi ini sudah lenyap tak bersisa saat pembredelan di zaman Orde Baru. Buku ini saja diselamatkan bukan di Indonesia melainkan oleh orang asing di Australia (kalau gak salah :p) dan berkatnya, buku ini kembali ke bumi pertiwi dengan cetakan baru. Padahal pengen banget baca lanjutannya, walaupun harus dengan berpikir agak ekstra dengan bahasa yang dipakai Pak Pram (Alm) yang "ketinggian" buat saya. Ceritanya memang agak menyebalkan buat perempuan namun itulah kenyataan yang terjadi di zaman penjajahan Belanda di Jawa, dimana perempuan selalu menjadi nomor kedua. Juga menjadi menyebalkan ketika Bendoro merasa tidak puas ketika Gadis Pantai melahirkan bayi perempuan, padahal siapa juga yang tahu bayi yang dikandungnya itu berjenis kelamin apa mengingat belum ada teknologi USG di zaman itu. Hufff...


0 comments:
Post a Comment