Umm, well. Malam Tahun Baru yang saya rayakan kali ini adalah malam tahun baru terburuk bagi saya selama 20 tahun ini. Betapa tidak, adik sedang ngambek berat sama saya dan parahnya saya gak bisa merayakan tahun baru bersamanya dan Mama. Sedih-pake banget.
Ngambek-alasannya sepele sih. Namun tetap saja, karena gengsi setinggi langit baik dipihak adik maupun di pihak saya jadinya kita lebih memilih saling mendiamkan. Sedih, ya sedih banget lah. Tapi, kayaknya kalau gak ngomong panjang lebar ke adik rasanya lebih enak karena saya gak ikut campur sama masalahnya. Tapi, lagi-lagi, sikap saya ini membuat saya ditegur sama tante-tante dan om-om saya. Katanya, saya harusnya lebih sabar dalam menghadapi adik saya ini, saya seharusnya tidak boleh mendiamkan adik saya ini, saya seharusnya tetap bersikap baik terhadap adik saya, dan seterusnya. Pertamanya saya berpikir, kenapa malah jadi saya yang ditegur? Jelas-jelas pangkal permasalahannya -menurut saya- adalah adik saya, lantas kenapa saya yang dihujani nasihat?
Namun, sepertinya Tuhan memberikan saya jawaban tepat di hari Pesta Keluarga Kudus Nazaret, 29 & 30 Desember lalu.
Saya dan Mama duduk di belakang kursi yang ditempati satu keluarga yang memiliki sepasang anak perempuan dan laki-laki - dimana yang perempuan adalah si kakak dan yang laki-laki adalah sang adik. Saya hanya berpikir,"persis seperti gue ya...". Awalnya si kakak dan si adik saling bermain, saling iseng, dan saling mengganggu. Entah kenapa, si adik ngambek sama kakaknya. Si adik bahkan sampai menangis dan akhirnya dipeluk oleh Mamanya, sedangkan si kakak diminta pindah tempat duduk di samping Papanya. Waktu bagian salam damai, si kakak sudah mengulurkan tangannya ke si adik untuk melakukan salam damai. Namun, si adik menolak - walaupun sudah dibujuk oleh Mama dan Papanya. Si kakak terlihat sedikit kecewa, namun namanya juga anak kecil, si kakak tidak begitu terlarut pada kekecewaannya itu. Namun, tanpa saya sadari, saya merasa sakit melihat kejadian itu dan puncaknya adalah tanpa sadar, ketika lagu Anak Domba Allah dinyanyikan, saya menangis....
Kecewa rasanya. Saya merasa saya sudah melakukan segala sesuatu yang baik demi adik saya, tapi mengapa balasannya seperti ini?
Inilah yang menjadi bahan permenungan saya diawal tahun 2013 ini.
Saya kurang berlapang dada. Saya kurang ikhlas. Saya kurang bersabar. Saya terlalu banyak menuntut, terlalu banyak mengharap imbalan. Saya tidak memiliki hati yang luas untuk bisa menerima kekecewaan seperti ini. Tidak hanya kepada keluarga, saya juga akhirnya menyadari saya kurang dalam semua hal itu ke teman-teman dan kenalan saya lainnya. Saya terlalu cepat iri, terlalu cepat sakit hati, terlalu cepat menghakimi orang, terlalu cepat melakukan hal-hal buruk.
Well, jadi quote yang cocok untuk bahan permenungan di awal tahun ini saya ambil dari novel mbak Sitta Karina, Seluas Langit Biru dimana kakek Kaminari memberi wejangan ini kepada Aozora Syahrizki :
"Milikilah hati yang luas, seluas langit biru. Di dalam hati yang luas, kamu akan menampung rasa memaafkan yang besar, kekuatan untuk berpikir dan bertindak positif, serta semangat untuk menjelang hari esok yang tidak pernah pudar. Jadilah langit itu, Sora..."
Welcome, 2013 :)
Scars by Asri Tahir | Book Review
11 months ago

0 comments:
Post a Comment