Well, awalnya gue gak begitu tertarik sama novel ini karena ini adalah novel terjemahan. Entah kenapa gue gak begitu suka novel terjemahan dari zaman keluar-masuk perpustakaan sekolah. Apalagi novel ini bakal diangkat ke layar lebar Maret ini, karena gue lebih memilih nonton filmnya daripada baca demi menghindari ekspetasi berlebihan yang takutnya membuat gue kecewa pada filmnya. Namun, trailer di youtube yang gue tonton dan review yang gue baca-baca di blog tetangga membuat rasa penasaran gue membuncah. Dan, gue akhirnya membeli novel terjemahan untuk pertama kalinya.
Novel ini sama imajinatifnya dengan Seri Harry Potter, Saga Twilight, dan The Chronicles of Narnia. Namun, kisah ini terasa lebih realistis karena Suzanne Collins, Ibu dari ketiga novel ini tidak menggunakan sihir, tidak menggunakan sosok vampir dan werewolf, dan singa yang bisa berbicara. Kisah ini tentang seorang gadis berusia 15 tahun yang hidup di zaman sesudah negara-negara di dunia porak-poranda, yang tinggal di negara bernama Panem yang menempati Amerika Utara yang sudah lenyap. Katniss Everdeen -sang gadis pemeran utama- digambarkan sebagai gadis yang kuat, tegar, dan memiliki kemampuan berburu dan memanah dengan sempurna, yang tinggal bersama Ibu dan adik perempuannya, Primrose Everdeen di distrik 12. Mempunyai sahabat terpercaya yang sempurna secara fisik, Gale Hawthrone. Hidupnya menjadi terekploitasi, sejak keikutsertaannya di The Hunger Games, sebuah peringatan akan pemberontakan distrik 13 yang sudah hancur rata dengan tanah terhadap Capitol -pusat pemerintahan- demi menggantikan posisi Primrose. Secara spesifik, The Hunger Games memilih 2 anak -1 pria dan 1 wanita- yang berusia diantara 12-18 tahun dari tiap distrik di Panem. Hanya akan ada 1 pemenang dari permainan ini, bagaimanapun caranya untuk menjadi pemenang ia harus menjadi yang satu-satunya hidup di permainan itu.
Buku pertama (The Hunger Games) menceritakan kisah Katniss yang ikut The Hunger Games ke 74 mewakili distrik 12 bersama Peeta Mellark. Uniknya, Collins sepertinya benar-benar menempatkan novel ini untuk dikonsumsi oleh remaja dengan adanya kisah cinta menarik antara Katniss dan Peeta yang menurut gue itu.... manis. Namun disaat yang bersamaan, Collins menempatkan kekejaman luar biasa menggunakan kata-kata yang tajam dan penuh darah. Yeah, penuh darah. Seperti yang sudah gue tuliskan, hanya akan ada 1 pemenang dari permainan itu, dan satu-satunya cara untuk meraih kemenangan itu adalah pembunuhan. Buku ini hampir sepenuhnya menggambarkan Katniss dan partnernya Peeta di arena Hunger Games dan bagi gue ketika membaca 1 buku ini gue bisa menebak Katniss ditakdirkan untuk bersama Peeta, bukan Gale. Oh yeah, The Hunger Games ke-74 ini akhirnya menjadi The Hunger Games yang tak pernah dilupakan oleh Capitol dan seluruh Panem. The heroes never die, right? #kode :p
Buku kedua berjudul Catching Fire. Disini terjadi Quarter Quell, permainan The Hunger Games yang diadakan 25 tahun sekali. Namun bagi gue, porsi untuk Quarter Quell cukup sedikit, karena di buku ini lebih ditampilkan Katniss yang manusiawi, yang mengalami rasanya jatuh cinta seperti remaja putri kebanyakan, dimana ia mulai membuka hatinya baik kepada Gale maupun Peeta. Buku ini banyak mengulas pergumulan batin Katniss yang sudah menjadi lambang pemberontakan dan sebagai gadis berusia 16 tahun. Dari review-review yang ada di blog-blog tetangga, gue amatlah setuju jika Collins memang berada di pihak Peeta, melihat kelembutan Peeta yang luar biasa kepada Katniss, yang bener-bener membuat gue bermimpi punya cowok kayak Peeta :p Gale disini sedikit sekali disentuh, tak heran banyak yang mengatakan Collins agak sedikit tidak adil terhadap Gale. Haha, me with Collins of course, Team Peeta! Namun jujur, gue tidak bisa memprediksi ending buku ini walaupun gue sudah membaca lebih dari setengah buku. Dan dan dan, gue cukup terkejut dengan ending buku ini dan... sangat amat merasakan bagaimana sakitnya Katniss kehilangan Peeta. #spoiler
Buku pamungkas dari trilogi ini, Mockingjay menurut gue sangat amatlah kelam. Disini Collins seperti menunjukkan sifat asli trilogi ini, kejam, gelap, kelam. Kecerdasan Collins sangat amatlah patut diacungi jempol dengan membaca buku terakhir ini, karena gue bener-bener merasa lelah dan capek selagi membaca buku ini. Capitol mulai terancam, distrik-distrik mulai memberontak yang dikomandoi Katniss, yang masuk sebagai prajurit distrik 13 yang hidup dibawah tanah. Di buku ini, Katniss digambarkan sebagai orang sakit jiwa akibat rasa kehilangannya yang besar terhadap Peeta dan obsesi besarnya untuk membunuh pemimpin Capitol, Presiden Snow ditambah penunjukkan dirinya sebagai lambang pemberontakan Panem. Bagi gue, ini adalah hal yang normal yang dialami seorang gadis berusia 17 tahun yang harus menanggung beban sebegitu besarnya disaat keadaan hatinya yang kosong sepeninggal orang yang dicintainya ketika disaat yang bersamaan ia harus melindungi orang-orang yang dikenalnya dekat maupun yang tidak dikenalnya. *spoiler alert* Peeta tidaklah meninggal, tapi ia harus menghadapi kenyataan yang lebih mengerikan ketika ia harus ditawan Capitol. Dan Katniss sadar, ia tidak akan bisa menjadi Mockingjay -lambang pemberontakan- tanpa Peeta disisinya. Namun ia kembali harus menelan pil pahit ketika ia harus menghadapi Peeta yang sudah "dibajak" Capitol. Lagi-lagi rasa sakit melanda hati gue ketika Peeta malahan berusaha membunuh Katniss disaat pertama mereka bertemu kembali. Kedua insan yang tadinya mabuk cinta sekarang sama-sama dicap orang sakit jiwa. Untuk endingnya - jujur, gue agak kecewa dengan ending yang diberikan Collins. Sudah sebegitu tegang dan menakutkan, akhirnya malah begitu. Namun disisi lain, unpredictable. Collins memperlihatkan sisi asli Katniss yang tidak bisa diatur. Selayaknya gadis berusia 17 tahun yang masih mencari jati diri, iya kan?
Dari alur kisah romantisme, pembaca "dipaksa" mencintai Peeta Mellark daripada Gale Hawthrone. Termasuk gue. Siapa sih yang gak mau punya kekasih yang lembut dan rela berkorban demi pasangannya? Terutama di buku kedua, sifat gentle Peeta amatlah dieksploitasi -at least menurut gue- sampe gue sendiri iri berat sama Katniss, sama tokoh imajinatif loh. Porsi kisah romatisme dan kisah kepahlawanan dari trilogi ini seimbang, tidak seperti buku-buku kepahlawanan lain yang menempatkan kisah cinta sang tokoh utama sebagai bumbu pemanis. Kisah cinta yang amat merasuk di diri gue merasakan betapa dalamnya cinta Peeta pada Katniss ketika disaat yang sama gue harus berusaha menahan rasa mual dan ketakutan yang ditimbulkan dari imajinasi liar akibat membaca satu-persatu kalimat, kata-perkata dari Collins.
Filmnya sendiri akan tayang 23 Maret nanti. Apakah akan dibuat sekejam bukunya atau malah mengecewakan gue, who knows. Yang pasti, buku ini sudah memberikan gue suatu gebrakan baru : mencintai novel-novel terjemahan.
"You love me. Real or not real?". I tell him, " Real."
Scars by Asri Tahir | Book Review
11 months ago


0 comments:
Post a Comment