CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Wednesday, February 29, 2012

Traveler's Tale, Belok Kanan: Barcelona!


Keempat orang bersahabat dari kecil. Di masa SMA mereka mulai saling jatuh cinta tanpa pernah tersampaikan. Retno dua kali menolak Francis padahal sebenarnya Farah memendam cinta pada pria itu. Menambah masalah jadi pelik, Jusuf juga sebenarnya menyayangi Farah. 

Mereka tumbuh besar dan bekerja di negara berbeda. Masalah dimulai ketika Francis mengirimkan undangan kepada tiga sahabatnya bahwa dia akan menikah dengan gadis Spanyol di Barcelona. Masing-masing pergi menuju Barcelona meski dengan budget terbatas dari penjuru yang berbeda dengan misi tersendiri. Mencari jawaban untuk pertanyaan masing-masing.

Francis, Retno, Farah, dan Ucup adalah 4 orang yang saling mengenal sejak masa kecil dan terus bersahabat sampai masa dewasanya, dimana mereka berempat tersebar di berbagai kota di seluruh dunia : Francis di New York, Retno di Copenhagen, Farah di Hoi An, dan Ucup di Afrika (err, my bad. Lupa tepatnya dimana :p). Setelah mendapatkan e-mail dari Francis yang berupa undangan pernikahan, sekarang tujuan mereka adalah satu, Barcelona!
Perjalanan menuju Barcelona memang tidak mudah, namun perjalanan kali ini menjadi lebih berat, karena perjalanan ini menguak semua perasaan dari masing-masing individu yang telah lama terpendam sejak terakhir kali mereka bertemu di akhir SMA. Perjalanan yang melelahkan, baik fisik dan mental, yang mereka jalani demi menuju Barcelona, berakhir....... wow. (at least menurut saya)

I've read this book twice and still having the same feeling : "I really love it!". This book not only offers you a love and friendship scene in it but also (of course) about travelling. 5 bintang untuk buku ini - karena selain kisah yang dibangun dari 4 penulis yang luar biasa ini - saya juga disuguhkan sebuah kisah perjalanan dari satu kota ke kota lain secara spesifik. #Oh ya, selain cerita di buku ini juga terdapat beberapa tips untuk travelling loh!#. Saya baru tahu ada kota bernama Hoi An yang ternyata adalah Unesco's World Heritage. Salah satu yang membuat saya tertarik membaca buku ini adalah Barcelona! Saya ingin sekali mengunjungi Barcelona, yang notabene adalah asal muasal nama saya ;)


As a travel-book lover, you have to read it! ^^

Amsterdam Surprises


Tulip, kincir angin, kanal-kanal, dan jembatan yang khas... Hanya itukah pesona negeri Belanda yang ada di pikiran Anda ketika bertualang di sana?

Semua itu memang tak akan bisa dipisahkan dari negeri Belanda. Namun sebenarnya, ada lebih banyak lagi hal menakjubkan di sana ketika kita bersedia melongok lebih dalam. Ekky Imanjaya menceritakan beragam penelusuran uniknya di negeri ini, khususnya di kota Amsterdam. Mulai dari pernak-pernik seputar sejarah dan budaya Belanda yang dalam beberapa hal tak bisa dipisahkan dari negeri kita; tentang musik dan film, hingga tentang survival dalam pergaulan dan agama.

Penulis juga berbagi tentang hal-hal dan tempat-tempat menarik di salah satu kota terbebas di dunia ini, termasuk tempat makan, belanja buku, museum, dan lain-lain. Amsterdam Surprises yang ada di sini pastinya akan membuat Anda benar-benar surprised. 

***

Mengagumkan! Buku ini memiliki keunggulan dari segi muatan isi dan style pengungkapannya. Sangat layak dibaca oleh semua lapisan masyarakat baik di Indonesia maupun di negeri Belanda.” 
—William de Weerd, Korwil ESQ Eropa, Ketua Persatuan Pemuda Muslim Eropa 

“Tulisan yang bisa 'menyedot' pembacanya masuk ke situasi yang sebenarnya. Kreatif, inovatif, ringan, sekaligus sangat informatif.” 
—Putri Lokitasari, Sekretaris IKANED (Ikatan Keluarga dan Alumni Netherland) dan alumni HAN University, Arnhem

I've never be so ambitious about going to Netherlands - well, if I have to go to there, there's one reason : My junior-high-school best friends. Pernah menjajah Indonesia, keterikatan batin Indonesia dan Belanda memang tidak bisa dipungkiri. Bahasa Indonesia sendiri-pun banyak yang berupa serapan dari bahasa Belanda.
This book giving me a different way to see Amsterdam. Agak lain dengan buku-buku perjalanan sejenisnya, buku ini memberikan penilaian dan gambaran lebih mengenai kebiasaan Nederlander di tanahnya - ya terlebih karena sang penulis merupakan seorang Mahasiswa di Belanda sehingga mempunyai keberuntungan lebih untuk berbaur dan mendalami kebiasaan warga Belanda - khususnya Amsterdam.
Well, agak ironis sebenarnya membaca buku ini, dimana ternyata benda-benda historikal Indonesia - album musik karya anak bangsa, majalah-majalah lama tahun 40-50an, film-film lawas Indonesia - malahan lebih banyak ditemukan di Belanda. Indonesia mendapatkan tempat lebih di hati Nederlander, terutama yang orang tuanya. Thanks to Ekky Imanjaya, the author for giving me a fabulous information through this book.

Bagian terbaik dari buku ini adalah di Episode IV : Museum, "Satu Kota, 7 Jam, 42 Museum". I loveeeee Museums! And now I hope I can go to Amsterdam, untuk ngikutin program Museumnacht! :)

Tuesday, February 21, 2012

The Trilogy of The Hunger Games

Well, awalnya gue gak begitu tertarik sama novel ini karena ini adalah novel terjemahan. Entah kenapa gue gak begitu suka novel terjemahan dari zaman keluar-masuk perpustakaan sekolah. Apalagi novel ini bakal diangkat ke layar lebar Maret ini, karena gue lebih memilih nonton filmnya daripada baca demi menghindari ekspetasi berlebihan yang takutnya membuat gue kecewa pada filmnya. Namun, trailer di youtube yang gue tonton dan review yang gue baca-baca di blog tetangga membuat rasa penasaran gue membuncah. Dan, gue akhirnya membeli novel terjemahan untuk pertama kalinya.
Novel ini sama imajinatifnya dengan Seri Harry Potter, Saga Twilight, dan The Chronicles of Narnia. Namun, kisah ini terasa lebih realistis karena Suzanne Collins, Ibu dari ketiga novel ini tidak menggunakan sihir, tidak menggunakan sosok vampir dan werewolf, dan singa yang bisa berbicara. Kisah ini tentang seorang gadis berusia 15 tahun yang hidup di zaman sesudah negara-negara di dunia porak-poranda, yang tinggal di negara bernama Panem yang menempati Amerika Utara yang sudah lenyap. Katniss Everdeen -sang gadis pemeran utama- digambarkan sebagai gadis yang kuat, tegar, dan memiliki kemampuan berburu dan memanah dengan sempurna, yang tinggal bersama Ibu dan adik perempuannya, Primrose Everdeen di distrik 12. Mempunyai sahabat terpercaya yang sempurna secara fisik, Gale Hawthrone. Hidupnya menjadi terekploitasi, sejak keikutsertaannya di The Hunger Games, sebuah peringatan akan pemberontakan distrik 13 yang sudah hancur rata dengan tanah terhadap Capitol -pusat pemerintahan- demi menggantikan posisi Primrose. Secara spesifik, The Hunger Games memilih 2 anak -1 pria dan 1 wanita- yang berusia diantara 12-18 tahun dari tiap distrik di Panem. Hanya akan ada 1 pemenang dari permainan ini, bagaimanapun caranya untuk menjadi pemenang ia harus menjadi yang satu-satunya hidup di permainan itu.
Buku pertama (The Hunger Games) menceritakan kisah Katniss yang ikut The Hunger Games ke 74 mewakili distrik 12 bersama Peeta Mellark. Uniknya, Collins sepertinya benar-benar menempatkan novel ini untuk dikonsumsi oleh remaja dengan adanya kisah cinta menarik antara Katniss dan Peeta yang menurut gue itu.... manis. Namun disaat yang bersamaan, Collins menempatkan kekejaman luar biasa menggunakan kata-kata yang tajam dan penuh darah. Yeah, penuh darah. Seperti yang sudah gue tuliskan, hanya akan ada 1 pemenang dari permainan itu, dan satu-satunya cara untuk meraih kemenangan itu adalah pembunuhan. Buku ini hampir sepenuhnya menggambarkan Katniss dan partnernya Peeta di arena Hunger Games dan bagi gue ketika membaca 1 buku ini gue bisa menebak Katniss ditakdirkan untuk bersama Peeta, bukan Gale. Oh yeah, The Hunger Games ke-74 ini akhirnya menjadi The Hunger Games yang tak pernah dilupakan oleh Capitol dan seluruh Panem. The heroes never die, right? #kode :p
Buku kedua berjudul Catching Fire. Disini terjadi Quarter Quell, permainan The Hunger Games yang diadakan 25 tahun sekali. Namun bagi gue, porsi untuk Quarter Quell cukup sedikit, karena di buku ini lebih ditampilkan Katniss yang manusiawi, yang mengalami rasanya jatuh cinta seperti remaja putri kebanyakan, dimana ia mulai membuka hatinya baik kepada Gale maupun Peeta. Buku ini banyak mengulas pergumulan batin Katniss yang sudah menjadi lambang pemberontakan dan sebagai gadis berusia 16 tahun. Dari review-review yang ada di blog-blog tetangga, gue amatlah setuju jika Collins memang berada di pihak Peeta, melihat kelembutan Peeta yang luar biasa kepada Katniss, yang bener-bener membuat gue bermimpi punya cowok kayak Peeta :p Gale disini sedikit sekali disentuh, tak heran banyak yang mengatakan Collins agak sedikit tidak adil terhadap Gale. Haha, me with Collins of course, Team Peeta! Namun jujur, gue tidak bisa memprediksi ending buku ini walaupun gue sudah membaca lebih dari setengah buku. Dan dan dan, gue cukup terkejut dengan ending buku ini dan... sangat amat merasakan bagaimana sakitnya Katniss kehilangan Peeta. #spoiler
Buku pamungkas dari trilogi ini, Mockingjay menurut gue sangat amatlah kelam. Disini Collins seperti menunjukkan sifat asli trilogi ini, kejam, gelap, kelam. Kecerdasan Collins sangat amatlah patut diacungi jempol dengan membaca buku terakhir ini, karena gue bener-bener merasa lelah dan capek selagi membaca buku ini. Capitol mulai terancam, distrik-distrik mulai memberontak yang dikomandoi Katniss, yang masuk sebagai prajurit distrik 13 yang hidup dibawah tanah. Di buku ini, Katniss digambarkan sebagai orang sakit jiwa akibat rasa kehilangannya yang besar terhadap Peeta dan obsesi besarnya untuk membunuh pemimpin Capitol, Presiden Snow ditambah penunjukkan dirinya sebagai lambang pemberontakan Panem. Bagi gue, ini adalah hal yang normal yang dialami seorang gadis berusia 17 tahun yang harus menanggung beban sebegitu besarnya disaat keadaan hatinya yang kosong sepeninggal orang yang dicintainya ketika disaat yang bersamaan ia harus melindungi orang-orang yang dikenalnya dekat maupun yang tidak dikenalnya. *spoiler alert* Peeta tidaklah meninggal, tapi ia harus menghadapi kenyataan yang lebih mengerikan ketika ia harus ditawan Capitol. Dan Katniss sadar, ia tidak akan bisa menjadi Mockingjay -lambang pemberontakan- tanpa Peeta disisinya. Namun ia kembali harus menelan pil pahit ketika ia harus menghadapi Peeta yang sudah "dibajak" Capitol. Lagi-lagi rasa sakit melanda hati gue ketika Peeta malahan berusaha membunuh Katniss disaat pertama mereka bertemu kembali. Kedua insan yang tadinya mabuk cinta sekarang sama-sama dicap orang sakit jiwa. Untuk endingnya - jujur, gue agak kecewa dengan ending yang diberikan Collins. Sudah sebegitu tegang dan menakutkan, akhirnya malah begitu. Namun disisi lain, unpredictable. Collins memperlihatkan sisi asli Katniss yang tidak bisa diatur. Selayaknya gadis berusia 17 tahun yang masih mencari jati diri, iya kan?

Dari alur kisah romantisme, pembaca "dipaksa" mencintai Peeta Mellark daripada Gale Hawthrone. Termasuk gue. Siapa sih yang gak mau punya kekasih yang lembut dan rela berkorban demi pasangannya? Terutama di buku kedua, sifat gentle Peeta amatlah dieksploitasi -at least menurut gue- sampe gue sendiri iri berat sama Katniss, sama tokoh imajinatif loh. Porsi kisah romatisme dan kisah kepahlawanan dari trilogi ini seimbang, tidak seperti buku-buku kepahlawanan lain yang menempatkan kisah cinta sang tokoh utama sebagai bumbu pemanis. Kisah cinta yang amat merasuk di diri gue merasakan betapa dalamnya cinta Peeta pada Katniss ketika disaat yang sama gue harus berusaha menahan rasa mual dan ketakutan yang ditimbulkan dari imajinasi liar akibat membaca satu-persatu kalimat, kata-perkata dari Collins.
Filmnya sendiri akan tayang 23 Maret nanti. Apakah akan dibuat sekejam bukunya atau malah mengecewakan gue, who knows. Yang pasti, buku ini sudah memberikan gue suatu gebrakan baru : mencintai novel-novel terjemahan.



"You love me. Real or not real?". I tell him, " Real."

Saturday, February 11, 2012

Yogyakarta~

Yep. Tanggal 3-5 Februari yang lalu, gue bersama rekan-rekan kantor lainnya mendapat kesempatan untuk ikut acara outing kantor ke Yogyakarta. Dibagi atas beberapa kloter keberangkatan, gue dapet keberangkatan yang jam 11.30. Bangun pagi-pagi, siap-siap menuju Gambir terlebih dahulu untuk nyobain naik Damri untuk pertama kalinya :D
03 Feb 2012
Janjian di Gambir sudah sejak pukul 08.00, namun kenyataannya ada beberapa dari kita yang telat dan kita baru berangkat ke bandara jam 08.45. Lumayan super telatnya, namun it's ok karena flight masih 2.5 jam lagi. Flight seharusnya pukul 11.30 tapi sampe pukul 11.25 aja kita belum dipanggil buat boarding. Udah gitu pake acara salah Gate lagi! *tiba-tiba terdengar lagu "itulah Indonesia~"* Masuk pesawat baru pukul 11.40-an abis itu masih pake antri buat take-off. Argh, Indonesia. Selalu aja delay. Gak cuma penerbangan, otak-otaknya juga kebanyakan delay *oops*
Kurang lebih pukul 13.00 akhirnya kita semua (yang kloter jam 11.30 lewat lewat dikit) sampe di kotanya para pelajar, Yogyakarta! Dari airport, kita langsung cabut ke Rumah Makan Ayam Goreng Ny. Suharti. Setelah kurang lebih makan selama 1 jam disana, akhirnya kita lanjut ke Malioboro. Well, ini sangat-sangat tidaklah adil. Kita sampe di Malioboro jam 15.30an dan harus ngumpul lagi jam 16.30! Aigoo, malas menunggu teman-teman yang minggir sana-minggir sini, sementara gue dan Cege ingin sekali ke toko Mirota, alhasil kita ngacir duluan biar cepet-cepet kesampean ke toko Mirota. Perjalanan emank tidak ada yang mulus, keinginan terbesar gue untuk beli kaos Dagadu di Malioboro Mall hampir tak terjadi, namun karena kenekadan gue, gue tetep ke Malioboro Mall untuk beli kaos Dagadu walopun konsekuensinya kita harus telat masuk bus bersama sang Tour Leader :p *maap yah ci :D*
Dari Malioboro kita lanjut menuju tempat makan malam yang gue lupa apa namanya. Kembali bergerombol dengan tim ticketing yang ribut sepanjang perjalanan dan juga ribut sepanjang makan. Banyak acara yang disajikan di situ, tapi karena mungkin udah terlalu capek karena terlalu aktif bergerak dan berbicara, jadi gue gak begitu bisa menikmati acaranya. Rasanya pengen cepet-cepet ke hotel terus mandi lalu bobo. Gak bisa cerita banyak karena memang gak ada yang banyak bisa diceritain. Setelah makan malam, rombongan bus 6 lanjut ke hotel Griya Persada di Kaliurang, tempat kita-kita nginep. Rencana pengennya tidur di bus, yang ada malah menggila bersama 1 bus yang diisi cewek-cewek asal ticketing dan tim messenger dan driver. Gara-gara lagu dangdut yang diputer sama kenek bus, alhasil kita jejeritan, goyang-goyang (tangannya doank sih yang goyang :p), nyanyi-nyanyi bareng sampe kita menginjak hotel.
Sampai di hotel, gue yang sekamar sama Cege, Vanni, dan Moniq langsung meminta mandi duluan karena badan gue lengketnya seampun-ampun. Selesai beberes dan semuanya mandi, kita mutusin untuk bertamu ke kamar teman-teman lainnya. Gak ketinggalan gue bawa buku yang sengaja banget gue bawa, The Hunger Games :D Kurang lebih jam 02.00, akhirnya kita semua tidur *walopun ada gangguan dari manusia-manusia yang tetap aktif bernyanyi di jam 2 subuh*
04 Feb 2012
Bangun jam 05.00 karena jam 08.00 harus udah jalan menuju Borobudur. Hari ini harusnya gue pindah dari Bus 6 ke Bus 7, tapi karena berhasil membujuk TL bus 7 dan bus 6, akhirnya gue, Vanni, Linka, dan ci Febby berhasil ke bus 6 kembali untuk sama-sama menggila di bus! Perjalanan pertama menuju Borobudur dimulai pukul 08.00 dan memakan waktu kurang lebih 1.5 jam (diluar perkiraan karena biasanya bisa sampai 2 jam). Jam 09.30 kita udah sampe di Borobudur dan walopun baru jam 09.30, puanasnya udah ga ada obat! Turun untuk sekedar foto group, tapi yaa yang namanya foto group 300 orang mah, orang kecil kayak gue berdiri dibelakang, kepala juga kagak keliatan kali yah. Well, akhirnya kebagian foto bareng bos walopun gak 300 orang semuanya sih. Sisanya kita foto-foto sendiri dan langsung inisiatif balik ke bus karena waktu yang ditentukan untuk balik ke bus adalah jam 11.00. Dari Borobudur yang berada di utara Yogyakarta lanjut ke Pantai Parangtritis yang ada di sebelah selatan Propinsi Yogyakarta. Kebayang donk ya perjalanan dari utara ke selatan. Makan siang di bus, tidur-bangun-tidur lagi-bangun-lagi gak nyampe-nyampe itu rasanya. Sekitar jam 14.00, kita sampe di Pantai Parangtritis dan dapet Welcome Drink kelapa muda. Karena emank dari awal udah males main di Pantai, akhirnya gue dan Mba Adisty cuma duduk-duduk di bawah pohon sekitar 1 km dari pantai. Ok, gak banyak yang bisa diceritain disini jadi kita skip aja ke Gala Dinner. Sampe di hotel jam 17.02 dan udah harus ngumpul di hall tempat Gala Dinner jam 17.30. Kebayang donk, 4 orang 1 kamar harus mandi dalam waktu 28 menit. Jadi yaaaa kita bodo amat aja. Sengaja makin telat karena nonton Boy dan Girlband apa gitu di SCTV. Setelah selesai bermalas-malasan, kita berempat beranjak ke hall tempat Gala Dinner diadakan. Setelah ada acara sepatah dua patah kata dari manajemen, kita disajikan makan malam dan persiapan untuk talent show yang wajib diikuti perdivisi. Karena divisi ticketing mentok abis mau ngapain dan karena waktu hari 1 udah klop banget sama divisi umum, akhirnya kita memutuskan untuk kolaborasi nyanyi bareng lagu ciptaan dari divisi umum. Kita yang udah pada cuek abis gak peduli jelek apa bagus nanti kita tampilnya, lalu ditambah penampilan dari tim-tim lain yang ciamik sempet buat gue agak pesimis sih ya. Tapi yaa pada saat kita dipanggil ke panggung, kita pada cuek aja naik ke atas panggung dan menyanyikan bagian kita masing-masing sesuai dengan latihan yang ada sambil diiringi alunan keyboard dari Vanni. Agak gak menyangka kita dapet sambutan yang luar biasa dari audiens dan akhirnya secara gak disangka-sangka, penampilan kita dapet Juara 1! Yippieeee! Alasannya, karena banyak yang tersentuh dengan lagu yang kita bawain yang memang tentang kebersamaan di Golden Rama. Kalo kita mah, pas asal tampil yang penting kompak! :D Selesai acara, yang lain pada ada after party, gue berempat balik ke kamar dan nge-jam bareng Vanni yang dengan sukarela main gitar buat kita sambil nyanyi-nyanyi. Setelah jamming, kita rencananya mau nenangga lagi nih, eh tetangganya malah tidur :p
05 Feb 2012
Hari terakhir di acara outing dibuka dengan HP gue yang berdering karena panggilan nyokap di jam 05.30, disaat gue sedang teler-telernya karena ngantuk berat. Setelah menerima telepon, gue memilih untuk tidur-tiduran aja karena udah gak bisa tidur lagi. Sekitar jam 06.00 gue mandi dan setelah selesai mandi gue lanjut baca The Hunger Games yang tanggung sebentar lagi bakal abis. Sekitar jam 07.00 akhirnya teman-teman sekamar gue pada bangun dan jam 07.30 gue memilih untuk makan pagi duluan bareng Vanni karena Vanni dapet kloter pulang yang jam 11.40. Selesai satu teman kamar makan, kita balik ke kamar (minus Vanni, karena udah duluan ke airport) dan malah tidur-tiduran lagi di kamar sambil menunggu jam 11.30, saatnya kita berangkat ke airport untuk flight jam 15.20.
11.30 teng, dan kita berangkat pertama-tama menuju pusat oleh-oleh di dekat bandara dan gue hanpir kalap belanja disana :p Habis belanja oleh-oleh, kita memilih untuk makan siang bersama di Rumah Makan Gudeg Bu Tjitro yang letaknya sangat amat dekat dengan airport Adi Sucipto. Selesai makan, langsung ke bandara untuk proses check-in karena posisi sudah jam 14.30. And, tepat pukul 15.20, pesawat Garuda Indonesia tujuan Jakarta tinggal landas meninggalkan Yogyakarta, lengkap dengan kenangan-kenangan yang ada selama di Yogyakarta.


Selama hampir 20 tahun hidup, gue sudah 3x ke Yogyakarta dengan 2x menggunakan pesawat terbang dan 1x jalan darat dan masing-masing mempunyai kenangannya sendiri. I'm so in love with Yogyakarta City with its warmth and I really wish to visit there for the 4th time with my Mom and Bro :)