CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Monday, October 24, 2011

Peri-Kemanusiaan

A few days ago, a friend of mine just had a nightmare. She called her guest and seems the guest had mad to her. Lately, I knew that her tears streaming down her face. Tamunya yang notabene orang berada entah karena apa membentaknya dan hingga membuat teman gue itu menangis. Mungkin, mungkin aja, menurut gue orang itu tidak pernah ada di posisi yang teman gue alami ini. Mungkin saja sepanjang hidupnya, ia selalu ada di posisi atas.
Semakin sedikit orang yang mempunyai kerelaan hati dan keikhlasan untuk membantu sesamanya, ambil contoh di Jakarta. Tingkat individualisme yang tinggi, rasa takut akan orang yang tidak kita kenal, gengsi untuk menengok kehidupan di bawah, kemalasan kita untuk ikut campur atas masalah orang - mungkin itu hal-hal yang lumayan berpengaruh kenapa kita (termasuk gue) gak mau menolong orang, dalam bentuk sekecil apapun. Terlalu banyak resiko jika kita membantu orang; jika ada orang yang tidak kita kenal yang nanya jam atau nanya apapun, pasti langsung ada rasa curiga jangan-jangan orang ini mau hipnotis atau mau lagi mengalihkan perhatian biar bisa nyuri dompet atau HP kita. Jika ada kecelakaan, yang biasa kita lakukan hanya nontonin kecelakaan itu tanpa ada niat menolong sama sekali; alasannya : takut jadi saksi, gak mau ikut campur urusan orang, dan yang paling frontal mungkin mereka yang kecelakaan itu bukan kenalan kita, jadi ngapain kita kepo-kepo nolongin. Iya kan? Manusiawi lah, gue juga begitu.
Tingkat kriminalitas di Jakarta juga udah sampe level yang menakutkan. Dari niat mencuri sampe akhirnya membunuh. Nyawa manusia kayak gak ada harganya lagi, dengan gampangnya mengambil nyawa manusia demi kepentingan sendiri. Gue kadang-kadang mikir, kalau hal itu terjadi pada dirinya atau keluarganya, apa ya reaksi mereka? Akankah mereka berteriak, menangis meraung-raung karena kehilangan anggota keluarganya? Pernahkah mereka berpikir, kalau Tuhan itu melihat semua perbuatannya di dunia? Akankah mereka berpikir untuk bertobat?
Secara personal, gue penganut paham : semua yang terjadi di dunia itu sudah direncanakan oleh Tuhan. Takdir kita sudah ditentukan, walaupun jalan menuju takdir itu kita sendiri yang menentukan.

Ini hanya sekedar sharing aja, karena gue mengalami hal yang sama dengan orang kebanyakan. Gue males nolongin orang yang  gak gue kenal, takut sama orang asing yang nanya-nanya ke gue. Sama kayak mayoritas, takut diapa-apain.




Oh ya, jadi inget satu lirik lagu yang lumayan menggelitik sanubari gue.
"Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud pada-Nya?" - Alm. Chrisye feat. Dhani Ahmad.

0 comments:

Post a Comment