CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Thursday, November 29, 2012

A Little Freaky Happiness : Soccer


Karena punya adik cowok, dari kecil saya dan adik saya selalu main adu penalti. Jatahnya bergantian, kadang saya yang jadi kiper dan kadang saya jadi penendang. Walaupun suka main adu penalti itu, bukan berarti saya yang diumur segitu dulu sudah mengerti soal dunia persepakbolaan. Kecintaan saya akan sepakbola muncul akibat punya mbak yang suka banget sepakbola.
Perkenalan paling pertama dengan dunia sepakbola adalah saat Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang. Yang saya ingat betul itu pertandingan Italia vs Korea Selatan dan sejak itu saya resmi menjadi tifosi Italia dan tifosi AC Milan - sampai sekarang. Ada sesuatu di dalam permainan 11 orang itu yang menarik perhatian saya. Skor akhirnya memang rata-rata kecil atau bahkan tidak ada angka sama sekali, namun yang seru itu bukan terletak pada skor akhir melainkan pada isi pertandingannya itu. Mencari 1 gol itu bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan skill personal tiap-tiap pemain, strategi sang pelatih, dan tentunya kerjasama apik dari tim. Menurut saya, sepakbola itu sejatinya adalah permainan kebersamaan, kebersamaan tim di lapangan dan kebersamaan penonton sebagai pendukung.
Dewasa ini, tidaklah aneh jika seorang perempuan amat menggilai sepakbola. Mungkin sebagian besar karena sekarang ini banyak pemain sepakbola berwajah ganteng, namun tak jarang pula yang menggilai sepakbola karena menikmati permainannya atau tak jarang dengan alasan kedua-duanya. Ambillah contoh, David Beckham. Siapa yang tidak mengenal pemain sekaligus model ganteng ini? Saya rasa yang tidak suka sepakbola-pun tahu. Tidak hanya bermodalkan wajah, Beckham sendiri punya modal aduhai dalam mengolah si kulit bundar. Keahliannya melepas tendangan bebas tidak perlu diragukan lagi. Kepemimpinannya sebagai jenderal lapangan tengah di kala masa emasnya tidak perlu dipertanyakan. David Beckham telah menjadi legenda hidup sepakbola modern dan panutan bagi pesepakbola belia zaman ini.
Kembali ke dalam negeri, sepakbola bagaikan roh yang merasuk ke dalam setiap benak  rakyat Indonesia, selain bulutangkis. Sedih memang melihat berbagai kasus yang terjadi di tubuh PSSI - Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia-, melihat sepakbola dipolitisasi oleh oknum yang mengaku pejabat pemerintah, melihat ketidakseriusan pemerintah dalam mengusut kasus hukum yang ada di PSSI, dan sebagainya. Tapi hebatnya, jika Timnas sedang bertanding, rakyat Indonesia seperti bersatu untuk mendukung Timnas, tidak peduli polemik apa yang sedang terjadi di tubuh PSSI. Kalah-menang, pendukung Timnas Indonesia selalu mendukung dan memberikan semangat kepada pemain-pemain yang adalah para pahlawan di lapangan hijau. Contohnya ya seperti saat AFF Cup sekarang ataupun 2 tahun lalu, dimana semangat nasionalisme rakyat Indonesia terbakar untuk mendukung penuh Timnas. 11 orang di lapangan hijau menyatukan 240.000.000 rakyat Indonesia.

By the way, demi nonton pertandingan sepakbola, saya sampai rela mengurangi jatah tidur dan membatalkan janji pergi. Freak enough? Yeah!

Wednesday, November 14, 2012

Gimme Third Chance, please...

Akhirnya untuk kali kedua Owl City dateng ke Jakarta, saya masih tetap gak bisa nonton. Kalo tahun lalu itu karena keabisan tiket, tahun ini karena gak dapet izin ortu! Argh, alasannya sih, karena kemaren itu udah nonton L'Arc~en~Ciel. Oh come on! Teman-teman seumuran saya bahkan sering banget bolak-balik tempat konser dalam satu tahun yang sama, sedangkan saya yang baru aja nonton konser 1x itu gak boleh lagi nonton konser dengan alasan di atas. Oke, mungkin terdengar pengecut ya saya, tapi menurut saya tetap aja restu nyokap untuk pergi-pergi gitu harus saya dapatkan - takut kualat. Tapi, argh... Tetap saja bikin saya kesel dan bete sedari tadi pagi. Kesannya sepele sih, bete karena gak boleh nonton konser, tapi... it really makes my day so blue. Dari kemaren-kemaren udah ngebayangin gimana karaoke massal nyanyi Good Time atau When Can I See You Again? atau Shooting Star. Ngebayanginnya aja bikin merinding banget, gimana kejadian aslinya? Perasaan saya tidak akan bisa merasakan hal yang sama dengan HootOwls lainnya itu yang bikin saya kesel setengah mati.

Saya hanya bisa berharap adanya kesempatan buat saya, okelah minimal kesempatan ketiga untuk saya. Masih berharap banget nonton konser Owl City dan mudah-mudahan Adam bisa balik lagi ke Jakarta tahun depan. Dan semoga saya bisa nonton dia tahun depan.


Oh my, I really wanna cry :'''''''''''''''''''((

Friday, November 9, 2012

Skyfall

Setelah operasi di Istanbul berakhir dengan bencana, James Bond hilang dan diduga telah tewas, sementara identitas para agen rahasia MI6 yang masih aktif terkuak di internet. Banyak yang meragukan kemampuan M untuk menjalankan misi rahasia dan ia menjadi perhatian pemerintah dalam menangani masalah tersebut.
Ketika misi itu sendiri diserang, kehadiran Bond secara tiba-tiba memberikan alasan bagi M untuk mencari si penjahat berbahaya, Raoul Silva. Saat Bond berhasil mengikuti jejak Raoul dari London ke Laut Cina Selatan, Bond menunjukkan kesetiaannya pada M dan melupakan rahasia masa lalunya (taken from 21cineplex.com)

Spoiler alert!
Eve Moneypenny melakukan kesalahan besar dengan menembak Bond dan mengakibatkan Bond dianggap telah meninggal. Di London, markas besar MI6 diserang dan sistem komputer MI6 juga diserang hacker. Identitas para agen milik MI6 yang tersebar di berbagai negara satu persatu terungkap oleh pihak lawan. Pemerintah Inggris mendesak M untuk segera pensiun dari jabatan pemimpin MI6. Di tengah kekacauan itu, mendadak Bond kembali hadir dan segera ditugaskan M untuk memburu sang hacker yang diperkirakan memiliki dendam dengan M. Dengan luka bekas tembak yang dialaminya serta serangkaian tes yang dijalaninya, sebenarnya Bond tidak memenuhi kualifikasi untuk diberikan misi rahasia. Namun M memberi kepercayaan penuh kepada Bond untuk mengemban misi ini dan mengirim Bond ke Shanghai, tempat dimana lawan Bond di Istanbul berada. Bersama Eve, Bond menuju Shanghai berbekal pistol baru yang hanya bisa dipakai oleh Bond dan radio kecil buatan Q. Setelah mengetahui letak bos dari komplotan itu, Bond tanpa didampingi Eve pergi menuju daerah Laut Cina Selatan, ke sebuah pulau tak berpenghuni yang menjadi markas komplotan tersebut. Bond dipertemukan dengan bos komplotan tersebut yang ternyata adalah mantan anak emas M di MI6. Sang pemimpin komplotan - Silva - berhasil ditangkap dan dibawa ke markas MI6. Namun namanya penjahat, pasti ada aja jalan buat kabur. Silva berhasil menjebol sel tahanannya dan kabur dari markas MI6. Dengan bantuan Q, Bond berusaha mengejar Silva yang tengah menuju ke gedung dewan tempat dimana M sedang seperti diadili. Tujuan Silva tak lain adalah membunuh M, yang dianggap telah membuat hidupnya menderita. Silva dan gerombolannya berhasil menyerang gedung dewan, namun M dapat diselamatkan dan dibawa kabur oleh Bond, serta membawanya ke tempat kelahiran Bond di Skotlandia. Bond membawa M ke rumah masa kecilnya di tempat bernama Skyfall. Disanalah Bond, M, dan kerabat masa kecil Bond berperang melawan Silva serta komplotannya. Penyerangan tersebut menelan korban : Silva sendiri dan M. Pemimpin MI6 akhirnya digantikan Mallory, yang tadinya merupakan utusan pemerintah yang mendesak M untuk mundur namun pada akhirnya ia membela Emma, sang mantan pemimpin MI6 yang telah mangkat.

Pengakuan saya : saya ngebet banget nonton Skyfall semata-mata pengen liat Q! Tidak ada di 2 seri James Bond era saya, peran Q muncul lagi dengan mengusung aktor baru : Ben Whishaw. Sejujurnya, saya belum pernah denger nama Ben Whishaw ini, tapi mendadak jatuh cinta waktu melihat artikel dari 21cineplex.com tentang terpilihnya pemeran Q di Skyfall, yang menyertakan salah satu scene :


Oh my, he seems so nerd and smart! Hahaha, namanya juga jadi Q - pembuat senjata-senjata muktahir James Bond dan ahlinya sistem komputer di MI6. Waktu ada scene-scenenya dia aja saya harus gigit jaket dan gigit jari agar gak seru sendiri. Scene-nya Q di Skyfall lumayan banyak, jadi puas banget liat Whishaw versi smart dan nerd plus kacamataan ini! Salah satu quote yang saya suka banget dari Q ini adalah : "I invented them". Kenapa? Ketika Bond meminta bantuan Q untuk menganalisa hard disk yang berhasil diambil dari salah satu anak buah Silva, si Q itu bilang kalo isi software (mungkin ya, soalnya lupa disebutnya apa sama mereka) yang ada di hard disk itu hanya ada 6 orang di dunia yang bisa buka. Lalu  Bond tanya ke Q apakah dia bisa buka software itu dan jawaban Q adalah quote yang tadi saya suka itu...... "I invented them". I was like... a.......... speechless. Ber-wow ria  sendiri di dalam otak dan tambah jatuh cintalah saya sama karakter ini. 
Diluar karakter Q ini, emmm... ah, susah ya soalnya saya memang niat banget nonton Skyfall demi Q saja sih. Hehehe, biasalah, naluri perempuan saya berbicara disini. Ah ya, saya gak sadar kalo si Mallory itu adalah si Voldy alias Ralph Fiennes! Dari awal sudah tau kalo Ralph Fiennes ikutan main di Skyfall, tapi tetep aja gak nyangka si Mallory itu-lah di Fiennes. Gara-gara nonton ini, saya jadi pengen baca novelnya James Bond. Waktu itu sempet cari-cari di Goodreads namun sepertinya belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Oh ya, kayaknya Skyfall ini bukan film yang berdasarkan novel serial James Bond ini, karena saya cari baik yang ditulis Ian Fleming, penulis lanjutannya, bahkan di seri Young James Bond, seri Skyfall ini tidak ada. Novel James Bond yang ditulis oleh Ian Fleming sejujurnya hanya ada sekitar 11 sampai 12 seri saja. Film-film yang ada sejak zaman dahulu itu ada yang diambil dari novel dan ada yang murni film aja - tidak berdasarkan novel. 

Film James Bond selanjutnya, pengen nonton kalo ada Q lagi ah. Hahaha, ya gak juga sih. Kalo ceritanya seru juga saya mau nonton lagi. Tapi kan, kalo yang jadi Q si Whishaw lagi, makin berhasrat nontonnya :3