ACBI adalah buku modul pelajaran Bahasa Indonesia waktu zaman saya masih SD. Suka banget sama buku itu waktu SD karena buku itu banyak cerita dan gambar, juga ada pembelajaran juga. Ya sebagai anak kecil tentu saya suka-nya karena banyak cerita. Tidak heran sampai sekarang hobi saya baca cerita :p
Kegemaran membaca hingga mencapai titik freak dan kuliah di universitas yang mayoritas pelajarannya memakai bahasa Inggris membuat saya semakin mencintai Bahasa Indonesia. Selain sebagai bahasa ibu, menurut saya bahasa Indonesia itu indah. Jika kita bisa memilih kata dengan benar, kita akan bisa menemukan keindahan sebuah kalimat dalam bahasa Indonesia. Lihat saja bahasa-bahasa yang dipakai dalam karya sastra, ambilah contoh karya puisi. Penulis pasti memilih kalimat-kalimat yang berisikan kata-kata yang puitis yang kadang memang membuat kita pusing kepala saking gak ngertinya. Tapi jika kita bisa memposisikan diri sebagai penulis itu, merasakan apa yang ditulis oleh sang penulis, mendalami isi dan pengertian dari puisi tersebut, niscaya kita bisa mengerti arti puisi tersebut dan tak jarang merinding. Saya mengambil contoh kumpulan karya oleh Dewi Lestari atau Dee, yang terkumpul dalam buku berjudul Madre. Teman-teman saya bilang, rata-rata mereka hanya mengerti satu buah cerita saja, yaitu cerita yang berjudul Madre. Terus terang saya penasaran, se-absurd apa buku itu sampai teman-teman saya gak mengerti karya lainnya. Saya langsung mencari pinjaman dan membuka satu demi satu halaman buku. Saya tergugah dengan puisi-puisi karya Dee yang jujur menurut saya indah banget! Saya suka dengan sebuah karya tulis yang berisi "curhatan" Dee kepada Atisha yang saat itu masih dalam kandungannya. Atau karya yang mengenai danau. Atau puisi penutup buku yang berjudul Barangkali Cinta berhasil membuat saya hampir mewek saking mendalaminya. See? Menurut saya Madre itu bagus banget. Oh ya, ada satu cerita yang cukup absurd sih buat saya. Judulnya "Have You Ever...?". Saya mengerti sih inti ceritanya, tapi akhir ceritanya yang lumayan absurd buat saya. Ternyata, setelah saya mendalami lagi -at least menurut saya- pembaca diposisikan menjadi teman dari si tokoh utama, yang sama-sama mengerti isi kisah si tokoh utama, namun tidak mengerti apa yang si tokoh utama cari lagi. Jadi ketika si tokoh utama tertawa karena ia mengerti akan sesuatu, si teman yang tidak mengerti-pun akhirnya ikut-ikutan tertawa, dan saya-pun ikutan tertawa! Sesulit apapun kisah yang disuguhkan penulis, pasti ada esensi yang bisa kita selami dan bisa kita cari tahu maknanya. Kalau cara saya sih ya, saya membaca lambat-lambat di bagian yang sulit itu dan setelah saya membaca kalimat itu, biasanya saya langsung memalingkan pandangan dari buku sambil mencerna isinya.
Di saat muda-mudi seumuran saya merasa akan lebih gaul memakain bahasa Inggris, saya tetap lebih nyaman untuk memakai bahasa Indonesia. Bahkan jujur saja, jika ada kesempatan saya mau saja mendalami Bahasa Indonesia lewat kuliah di Sastra Indonesia. Sudah bagus Indonesia punya bahasa nasional, mengapa tidak kita pakai dan banggakan?
Scars by Asri Tahir | Book Review
11 months ago

0 comments:
Post a Comment