*The Hunger Games official Movie Poster*
Katniss, berusia 16 tahun yang tinggal bersama ibu dan adik perempuannya di distrik termiskin Panem, wilayah yang tersisa dari Amerika Serikat. Dahulu distrik melancarkan perang terhadap Capitol dan kalah. Sebagai bagian dari syarat-syarat kapitulasi, setiap distrik diharuskan mengirim satu anak laki-laki dan seorang anak perempuan muncul di acara tahunan di televisi yang disebut, 'The Hunger Games', medan, aturan, dan tingkat partisipasi penonton dapat berubah namun satu hal konstan: membunuh atau dibunuh. Ketika adik Kat terpilih, Kat menawarkan diri untuk menggantikan tempatnya.
Jumat kemarin, akhirnya saya sukses nonton The Hunger Games sendirian karena bingung mau ajak siapa. Film mulai jam 13.15 tapi saya sampe di bioskop jam 13.26. Nice-lah, untungnya cuma ketinggalan 1 scene yang, well, saya gak menyesal koq ketinggalan scene itu. Oh ya, karena sebelumnya saya udah baca bukunya, sebelum nonton saya mengubah mindset saya sebagai orang yang baru tau apa itu The Hunger Games, tanpa mengingat-ingat isi bukunya *well, quite difficult, karena tetep aja saya ngebandingin isi buku dengan plot filmnya*.
Overall, I love the movie (tanpa inget isi buku ya). 1 perbedaan yang mencolok antara film dan bukunya adalah jika di buku Collins menggunakan sudut pandang orang pertama dan kita diharuskan menempatkan diri sebagai pendengar setia Katniss, di film-nya Collins (yeah, Collins juga menulis script untuk filmnya) menggunakan sudut pandang orang ketiga, dimana posisi kita ditempatkan sebagai penonton saja. Yang bikin saya takjub adalah walaupun beberapa bagian cerita di buku tidak diceritakan semua di film, namun tetap aja itu film lamanya 2 jam 22 menit! Gak ngebayangin kalo seluruh isi buku dijadiin film deh...
About the casts, Jennifer Lawrence is so adorable. I love her sharp eyes as Katniss Everdeen. Saya suka gaun-gaun yang dipakainya di film ini. Dari gaun merah yang wawancara pertama dengan Caesar Flickerman dan gaun putih di wawancara terakhir dengan Caesar Flickerman. Saya suka kepangan rambut Katniss. Oh, I love her very much! Beside Katniss, dua perempuan yang sangat menarik perhatian saya adala Clove dan Rue. Isabelle Fuhrman, dengan mata yang tajam dan wajah yang ketus berhasil membuat saya jatuh cinta pada karakter Clove yang sadis. Sedangkan Amandla Stenberg sesuai dengan karakter Rue di dalam imajinasi saya yang imut, lincah, dan imut. Hahaha Rue for me is sooo cute!
Dan oh iya, gambaran tentang penduduk Capitol yang nyentrik melebihi apa yang ada di imajinasi saya. I love it! Berwarna-warni, bulu anjing warna pink, penampilan Effie Trinket yang berwarna ungu, aaaaa~ love it! The guys also adorable too. Josh Hutcherson as Peeta Mellark, Liam Hemsworth as Gale Hawthrone, and Alexander Ludwig as Cato. Tiga lelaki ini sukses membuat saya gigit jaket di bioskop biar gak seru sendiri. They're too hawt! Kyaa!!
Bicara tentang plot ceritanya, jelas banyak yang berbeda dengan bukunya. Plot yang diambil adalah plot-plot penting di buku dan plot-plot sampingan (yang sebenarnya agak gue anggap penting) diabaikan. Termasuk kisah romantis antara Katniss and Peeta. Saya amat menunggu kisah piknik seharian mereka sebelum The Hunger Games dan kejadian romantis nan manis yang ada di gua. Tapi, sepertinya Collins lebih mementingkan kisah Hunger Games dan agak mengesampingkan kisah cinta antara Katniss dan Peeta. Well, bisa dimaklumi demi terbatasnya waktu tayang. Tapi gara-gara itu, saya jadi gak dapet feel chemistry antara Katniss dan Peeta-nya. Ya sudahlah, dapatkan feel itu dengan baca ulang bukunya. Filmnya sendiri tidak "sekejam" bukunya. Untunglah, walaupun ada darah yang berceceran dan muncrat kemana-mana, tapi saya oke-oke saja melihatnya. Lagu Safe and Sound sendiri terngiang di kepala gue ketika adegan Katniss bernyanyi untuk Rue yang untuk terakhir kalinya.
Overall (again), I love this film! Walopun sempet agak kecewa (salah saya sendiri sih udah baca bukunya duluan :p) tapi saya bisa memakluminya. Coba baca tulisan singkat ini :
"Setelah menonton film ini, saya yakin bahwa banyak orang akan mulai membandingkan hasil akhir film dengan bukunya, mana yang lebih bagus. Tapi, menurut saya buku dan film adalah medium yang berbeda, jadi agak buang-buang waktu untuk membandingkannya. Pertanyaan yang lebih penting sebenarnya adalah apakah 'The Hunger Games' sebuah adaptasi yang bagus?
Untuk pertanyaan itu, saya bisa menjawab ya. 'The Hunger Games' mempunyai semangat yang membara dan sisi romansa yang cukup membuat Anda terlena. Dan, dengan resmi saya mengatakan bahwa seri 'Twilight' tidak ada apa-apanya dengan film ini. Katniss bisa menghancurkan Edward Cullen dan Jacob Black hanya dengan tatapannya." - Candra Aditya on DetikHot.
Jadi, saran saya bagi yang sudah baca bukunya adalah nikmati saja filmnya! Dan yang belum baca bukunya, nikmati ketegangan yang berlipat ganda lewat bukunya!
Happy Hunger Games! and may the odds be ever in your favor!

